Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

5 fakta mengapa harus memuliakan ibu

jurirakyat.blogspot.com sosok emak adalah manusia yang paling teragung sejagat raya kewajiban kita sebagai darah dagingnya yang sangat bersusah payah memerjuangkan segala bentuk derita yang di iringi dengan kesengsaraan yang di alami oleh sang ibu berikut di bawah ini :
5 fakta perjuanganan ibu
  • 1.ibu merawat dan membesarkan kita.






ibu merawat dn membesarkan kita bukan sehari dua hari melainkan menghabiskan waktu yang sangat lama dan panjang mulai dari memberi makan,menyediakan makanan,menyuapi,menyuci pakaiaan,segala kebutuhan diberikan oleh sosok emak secara cuma-cuma tanpa meminta jaa dan pamrih sungguh mulia jasa si emak.
  • 2.ibu menyusui selama 2 tahun lamanya.


ibu menyususi selama 2 tahun lamanya,ketika ibu menyusui kita terkadang rasa lapar akan di alaminya karena anaknya menyerap sebagiaan makanan melalui asi sang ibu tak jarang pula ketika ditengah jalan,maupun di tengah malam kita selalu saja menetek membuat ibu terasa lapar bahkan apabila gigi kita sudah tumbuh menggit susu ibu walaupun rasa sakit yang di alaminya sesakit apapun tetap ia sayang terhadap anaknya.
  • 3.mencari nafkah.


di balik hari-hari yang di jalani oleh sang ibu ada usaha yang di lakukan sang ibu untuk membantu siayah demi kebutuhan ekonomi rumah tangga keluarga di rumah itu semua ia lakukan untuk kepentingan kebahagiaan keluarga dan anaknya.
  • 4.mengandung.


selama 280 hari tepatnya 9 bulan kita berada dalam surga rahim ibu tanpa ada masalah dan memiliki beban di balik semua itu sebenarnya ibu memiliki beban selam itu juga ibu membawa kita dengan perutnya yang besar kemana ia pergi kadang kala tidurnya tak nyenyak  dan tersiksa demi menyelamatkan sang janin bayi yang ada di dalam rahimnnya.
  • 5.melahirkan.


pada tahap ini ibu melahirkan kita dengan perjuangaan yang sangat kukuh melawan rasa sakit yang tiada terhingga ketika ia menarik setiap hembusan nafasnya dengan sekuat tenaga ia rela kehilangan nyawa asalakan anaknya selamat "Yaaaa.... Alllllllaaaaaaaaaaaah.....ampunilah dosa ibuku demi aku ia rela kehilangann nyawa asalkan aku selamat,ia nyawa ia pertaruhkan itu semua demi siapa? demi kita sebagai anaknya.
syukur jika pada saat itu ibu selamat,jika tidak?apalagi bila ibu belum memiliki persiapan akhirat pergi karena kita di + lagi kita sebagai anaknya tidak pernah mendo'akannya sementara di alam kubur ibu menjerit dan meraung tersiksa sambil meratap,memohon dan berharap seraya berkata "nak....do'akan emak nak..." sungguh inilah jasa ibu yang paling terbesar yang tidak dapat di gantikan oleh apapapun sekarng pantaskah kita berkata "ah? sebagai mana yang telah di jelaskan oleh al-Qur'an?
aljannaht tahta akdamil ummahat surga itu di bawah telapak kaki ibu penulis m.yamin. situs web www.carameraihsukses.com mari kita memuliakan orang tua.   

Senin, 08 Desember 2014

Cerita Rakyat Jawa - Asal Usul Gunung Bromo Dan Semeru



Cerita Rakyat Jawa - Asal Usul Gunung Bromo Dan Semeru. Alkisah pada zaman dahulu Pulau Jawa belum dihuni oleh manusia, bagaikan daun padi yang terapung dan terombang-ambing di tengah samudera dan senantiasa mengguncang setiap pulau di muka Bumi. Pulau Jawa selalu bergerak berpindah-pindah sebab tidak ada gunung-gunung yang menahannya. Oleh karena itu, Bhatara Jagatpramana (nama lain Bhatara Guru) berdiri, dia menciptakan Pulau Jawa bersama Bhatari Parameswari, sehingga terdapatlah Gunung Dihyang (Gunung Dieng sekarang), tempat Bhatara Guru kemudian mencipta.

Setelah Bhatara Guru selesai melakukan semadi, kemudian memerintahkan Hyang Brahma dan Wisnu untuk menciptakan manusia. Manusia laki-laki dibuat oleh Brahma, sedangkan manusia perempuan dibuat oleh Wisnu. Tanah dikepal-kepalnya dan dibuatlah manusia yang sangat elok rupanya seperti rupa dewata. Sepasang manusia di Pulau Jawa itu lalu beranak pinak. Sayang mereka masih tanpa pakaian, tidak dapat berbicara dan belum menetap dalam suatu rumah. Maka dari itu para dewata berkumpul dan bermusyawarah menghadap kepada Bhatara Guru. Bhatara Guru memerintahkan kepada para dewa agar turun ke Pulau Jawa untuk mendidik manusia Jawa.

Maka para Dewa bersama-sama turun ke Pulau Jawa. Wiswakarma mengajarkan cara membuat rumah. Iswara mengajarkan tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (ilmu hukum/tata tertib). Wisnu mengajarkan cara bertingkah laku dan menjadi guru manusia. Mahadewa mengajarkan menjadi tukang besi dan membuat pakaian. Bhagawan Ciptagupta mengajarkan melukis dan mewarnai perhiasan. Brahma mengajarkan cara membuat peralatan dari besi. Lima makhluk besar dimintai pertolongannya, yakni bumi, air, api, angin, dan angkasa. Bumi sebagai landasan (paron), air sebagai penjepit, api sebagai pembakar, angin sebagai peniup api, dan angkasa sebagai palu. Oleh karena itu, tempat itu dinamai Gunung Brahma (Bromo), tempat Brahma menjadi pandai besi. Palu dan landasannya sebesar pohon tal, penjepitnya (guntingnya) sebesar pohon pinang, sang Bayu (angin) keluar dari goa, dan sang Agni (api) selalu ada siang dan malam. Itulah tempat Brahma mengerjakan pekerjaan pandai besi.

Adapun Pulau Jawa pada zaman itu masih bergoyang-goyang, selalu bergerak mengguncang-guncang, karena belum ada penindihnya. Oleh karena itu Bhatara Guru mencari alat untuk menguatkan Pulau Jawa supaya tetap kuat. Kemudian Bhatara Guru bertapa di Gunung Hyang (Gunung Dewa, Gunung Dieng sekarang), berdiri menghadap ke timur, kemudian diputarlah air sampai menjadi busa, lalu menjadi gunung. Tanah yang dipijak oleh kaki Bhatara kelak menjadi Gunung Limohan. Kemudian Pulau Jawa sudah tidak kuat lagi, selalu bergerak berguncang-guncang. Kemudian Bhatara Parameswara (nama lain Bhatara Guru) memerintahkan kepada para dewata menghentikan penciptaan dunia. Maka pulanglah mereka ke sorganya masing-masing. Adapun manusia di Pulau Jawa semakin lama semakin bertambah banyak.

Melihat keadaan Pulau Jawa para Dewa merasa sangat prihatin. Itu sebabnya, dengan berbondong-bondong para dewa menghadap Bhatara Guru yang menjadi pemimpin mereka. Semua dewata, para resi, para pahlawan, para bidadari, para gandarwa, semua berhimpun dan sujud di kaki Bhatara Mahakarana. Setelah mereka berbuat sembah, mereka duduk bersila berderet menghadap ke Bhatara Guru. “Sampai sekarang Pulau Jawa masih terus bergoyang kalau tidak segera diatasi, pulau itu selamanya tidak akan ditempati.

Karena itu, mohon Pukulun (Tuan) memikirkannya,” kata Dewa Wisnu. Sesuai dengan hasil semadinya di Gunung Dihyang Bhatara Guru telah menemukan cara mengatasi hal itu. “Satu-satunya cara untuk membuat Pulau Jawa kokoh dan tidak bergoyang adalah dengan memberinya pasak. Karena itu pergilah ke Jambudwipa (India). Potonglah Gunung Mandara separuhnya dan ambillah puncak Mahameru untuk dijadikan pasak Pulau Jawa,” ujar Bhatara Guru. “Mohon ampun, Pukulun.

Gunung Mandara itu sangat tinggi, puncaknya yang bernama Mahameru sampai menyentuh langit. Jadi, meskipun diambil separuhnya, tetap saja sangat besar dan terlalu berat untuk diangkat serta dipindahkan. Mana mungkin di antara kami ada yang mampu melaksanakan tugas tersebut?” kata Bhatara Bayu. “Sebesar dan seberat apapun suatu pekerjaan, akan menjadi lebih mudah dan terasa lebih ringan bila dikerjakan bersama-sama. Itu sebabnya, kalian harus berangkat bersama-sama dan bergotong-royong untuk menyelesaikan pekerjaan ini”, perintah Bhatara Guru.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi berangkatlah para dewa ke Negeri Jambudwipa. Mereka bahu-membahu memotong Gunung Mandara menjadi dua. Setelah puncak Mahameru berhasil didapatkan, barulah para dewa itu membagi tugas untuk membawanya ke Pulau Jawa. Mula-mula, Bhatara Brahma yang mengubah dirinya menjadi kura-kura raksasa.

Kura-kura yang besarnya tiada terkira itu dijadikan alas untuk meletakkan Mahameru. Kemudian Bhatara Bayu, sang dewa kekuatan mengangkat Mahameru dengan dibantu dewa yang lain, dan meletakkannya di punggung kura-kura. Setelah itu Bhatara Wisnu mengubah diri menjadi naga raksasa yang panjangnya tidak terjangkau mata. Naga raksasa itu membelit Mahameru agar tidak sampai terjatuh selama dalam perjalanan.

Di perjalanan para dewa yang kelelahan membawa Mahameru, merasa sangat kehausan. Mereka melihat ada air yang sangat jernih keluar dari Mahameru yang dibawanya. Para dewa yang menempuh perjalanan yang sangat jauh, segera berebut mengambilnya. Mereka ingin menghapus dahaga dengan meminum air tersebut. Mereka tidak sadar bahwa air itu sebenarnya adalah air racun Kalakuta yang mematikan. Sesaat setelah meminumnya, para dewa itu menemui ajalnya.

Tidak berapa lama kemudian, Bhatara Guru datang untuk melihat kerja para dewa. Betapa terkejutnya pemimpin para dewa itu, mengetahui anak buahnya sudah terbujur kaku tidak bernyawa. “Ah, semua dewata mati. Apa sebabnya mereka mati?” kata Bhatara Guru dalam hati. Setelah melihat keadaan sekeliling, Bhatara Guru mencurigai air yang mengalir dari puncak Mahamerulah yang menjadi penyebab kematian para dewa.

Untuk membuktikannya, Bhatara Guru meneguk air racun Kalakuta itu. Ternyata benar, begitu melewati tenggorokan, leher Bhatara Guru seketika bagai terbakar. Bhatara Guru pun memuntahkannya. Namun sudah terlambat, meski berhasil dimuntahkan, leher Bhatara Guru sudah terlanjur terbakar dan tak bisa disembuhkan. Akibatnya, pada leher Bhatara Guru terdapat tanda hitam yang tidak dapat dihilangkan. Sejak saat itu, Bhatara Guru mendapat sebutan Bhatara Nilakanta yang artinya leher hitam.

“Ganas sekali racun Mahameru ini. Pantas bila para dewa langsung menemui ajal begitu meminumnya,” guman Batara Guru. Akhirnya, dengan kesaktian yang dimiliki, Bhatara Guru mengubah air racun Kalakuta menjadi air suci pangkal kehidupan. Air itu diberi nama Tirtha Kamandalu. Tirtha Kamandalu itu segera disiramkan ke semua jasad para dewa. Ajaib! Begitu tersentuh Tirtha Kamandalu, para Dewa langsung hidup sebagaimana keadaan semula. Maka Bhatara Guru berkata: “Kini bawalah kembali Sang Hyang Mandaragiri (nama lain Mahameru) sampai ke Pulau Jawa, hai anak-anakku.”

Maka para raksasa dikerahkan untuk membantu para dewata. Gunung Mandara diangkat, kemudian sampailah mereka ke sisi sebelah barat Pulau Jawa. Nampaklah Mahameru bercahaya cemerlang, oleh karena itu Gunung Mahameru dinamakan juga Kelasaparwata. Lalu ditancapkanlah di sebelah barat Pulau Jawa sebagai paku. Namun yang terjadi adalah Pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur Pulau Jawa terangkat ke atas. Tunggul sisanya hanya ada di sisi barat, oleh karena itu nanti akan ada Gunung Kailasa, tunggulnya Sang Hyang Mahameru.

Akhirnya puncaknya Mahameru dipindahkan ke sebelah timur, diangkat bersama-sama oleh para dewata. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang Pulau Jawa antara lain, Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kampud (Kelud), Kawi, Arjuna (Arjuno), dan Gunung Kemukus (Welirang).

Tubuh Mahameru rusak bagian bawahnya karena runtuh maka miring berdirinya, bergerak-geraklah puncaknya. Lalu puncak Mahameru diberdirikan oleh para dewata. Demikianlah Mahameru tidak kuat dan bersandar di Gunung Brahma. Kemudian puncak yang tersisa ditancapkan berupa Gunung Semeru, dari kata Mahameru. Ketika Gunung Mahameru sudah ditaruh di bagian timur, Pulau Jawa tetap saja miring.

Sehingga para Dewa memutuskan memotong bagian gunung dan ditempatkan di bagian barat laut. Penggalan Mahameru itu menjadi Gunung Pawitra (artinya Gunung Suci) dan sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Penanggungan. Oleh karena diperteguh pada Gunung Brahma, Pulau Jawa menjadi kuat, berhentilah dia bergerak dan bergoyang maka Gunung Mahameru disebut juga dengan Gunung Misada.

Mulai saat itu Pulau Jawa menjadi tenang kedudukannya seperti sekarang ini. Ketika Sang Hyang Siwa datang ke Pulau Jawa dilihatnya banyak tanaman Jawawut, sehingga akhirnya pulau yang ditempati Gunung Mahameru itu dinamakan Pulau Jawa. Bagian utama Gunung Mahameru dijadikan bersemayamnya Dewa Siwa dan sekarang lebih dikenal dengan nama Gunung Semeru.


Sumber: id.wikipedia.org

Legenda Rakyat Jawa Timur - Gunung Arjuna


Legenda Rakyat Jawat Timur - Gunung Arjuna. Halo sobat juri rakyat, taukah sobat dimana letak Gunung Arjuna? Nah mukin ada beberapa sobat juri rakyat yang belom tau bahkan ada yang belom pernah dengar di daerah mana Gunung Arjuna, Gunung Arjuna terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menurut legenda masarakat setempat, gunung ini dahulu ketingiannya hampir mencapai langit. karna ada beberapa peristiwa yang menyebabkan gunung ini dipotong, hingga ahirnya ketinggiannya menjadi 3.339 meter diatas permukaan laut. nah penasaran kan apa sih penyebab gunung arjuna jadi terpotong? simak Legenda Gunung Arjuna berikut ini.

Alkisah, Dalam kisah pewayangan dikisahkan bahwa Prabu Pandu memerintah di Kerajaan Hastinapura. Ia memiliki lima orang putra yang dikenal sebagai Pandawa yang berarti Anak Pandu. Kelima orang Pandawa itu adalah Yudhistira, Bhima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa. Yudhistira, Bhima, dan Arjuna lahir dari permaisuri pertama Prabu Pandu yang bernama Kunti, sedangkan Nakula dan Sadewa lahir dari permaisuri kedua yang bernama Madri.

Dari kelima Pandawa tersebut, Arjuna dikenal memiliki ilmu kesaktian yang tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Nama Arjuna diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti yang bersinar atau yang bercahaya. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, sang Dewa Perang. Sebagai titisan Dewa Indra, Arjuna memiliki ilmu peperangan yang tinggi. Ia sangat mahir memanah dan sakti mandraguna. Semua kesaktian tersebut merupakan anugerah dari para Dewa karena ketekunannya bertapa. Namun, karena belum puas dengan kesaktian yang dimilikinya, Arjuna masih sering melakukan tapa untuk menambah kesaktiannya.

Kali ini Arjuna bertapa di puncak gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan-bulan. Karena ketekunannya, tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Hal ini menimbulkan persoalan besar di kahyangan Suralaya. Kahyangan tempat para dewa berguncang. Kawah Candradimuka mendidih dan menyemburkan muntahan lahar. Petir menggelegar di siang bolong. Puncak gunung tempatnya bertapa terangkat ke atas hingga hampir menyentuh langit. Karena perbawanya yang hebat, jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.

Para Dewa sangat khawatir, dan kemudian mereka berkumpul mengadakan sidang yang dipimpin oleh Batara Guru. Dari sidang itu, para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada yang dianggap sanggup menyelesaikan masalah tersebut. Batara Narada pun buru-buru terbang ke bumi. la menyelidiki untuk mengetahui apa yang menyebabkan kahyangan ber­guncang hebat. Sesaat ia terbang, berputar-putar di angkasa. Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada, “Cucuku Arjuna, bangunlah dari tapamu.

Semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak menghentikan tapamu.” Arjuna mendengar panggilan tersebut. Namun karena keangkuhannya, justru dia malah semakin tekun bertapa. Dia berpikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa-dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian. Batara Narada gagal membangunkan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, Batara Narada segera terbang kembali ke kahyangan.

Barulah Batara Guru tahu siapa penyebab kegoncangan kahyangan tetapi tidak mengetahui apa kemauan Arjuna itu. Sidang pun segera digelar untuk mencari cara bagaimana membangunkan sang Arjuna dari tapanya. Lalu Batara Guru memanggil tujuh bidadari cantik dan memerintahkan mereka untuk menggoda Arjuna sampai ia mau mengakhiri tapanya. Para bidadari itu pun terbang ke bumi.

Setibanya di tempat Arjuna, para bidadari cantik itu mulai merayu dengan suara lembut. Segala cara mereka pakai untuk membangunkan Arjuna dari tapanya. Namun, Arjuna tidak bergeming. la tidak tergoda sedikit pun oleh rayuan mereka. Para bidadari jelita itu kembali ke kahyangan dengan wajah kecewa dan melaporkan kepada Batara Guru atas kegagalan mereka menggoda Arjuna.

Lalu Batara Guru memanggil para dedemit dan memerintahkan mereka untuk menakut-nakuti Arjuna. Sepasukan dedemit segera berangkat ke gunung tempat Arjuna bertapa. Mereka pun menakut-nakuti Arjuna dengan segala cara. Namun, penengah Pandawa itu tetap tidak bergeming. la seakan terlena dalam tapanya. Para dedemit segera melaporkan kegagalan mereka kepada Batara Guru.

Betapa gundah hati Batara Guru, ia berjalan mondar-mandir untuk mengurangi keresahan hatinya. Di saat nyaris putus asa, tiba-tiba Batara Guru teringat Dewa Ismaya. Dewa Ismaya itu tak lain adalah Semar yang menjadi pengasuh Pandawa di bumi. Batara Narada segera diutus ke bumi untuk menemui Batara Ismaya. Dewa yang bertubuh gemuk itu pun segera melesat ke bumi. Setibanya di tempat Semar, Batara Narada pun men­ceritakan keresahan hati Batara Guru.

Semar merasa terkejut dengan kelakuan Arjuna itu yang dikenal sebagai seorang satria yang baik. Lalu Semar berjanji kepada Batara Narada agar Batara Guru tetap tenang dan akan segera menemui Arjuna untuk menyadarkan anak asuhannya tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih, Batara Narada pun segera kembali ke kahyangan. Semar termenung sendirian dan sibuk mencari akal. Ia pun ingat untuk meminta bantuan adiknya yang bernama Togog. Lalu, ia berangkat ke rumah adiknya. Togog menyambut dengan gembira dengan kedatangan kakaknya. Semar pun menceritakan perihal tugas yang diberikan Batara Guru kepadanya.

Kedua kakak-beradik itu segera berangkat. Setibanya di gunung tempat Arjuna bertapa, mereka berpencar. Masing-masing menempati sisi gunung itu. Lalu mereka bersemadi. Berkat kesaktian mereka, tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar. Tingginya melampaui puncak gunung itu. Lalu mereka mengeruk bagian bawah puncak dan memotongnya.

Mereka melemparkan puncak gunung itu ke tempat lain. Terdengarlah suara berdebum saat potongan gunung itu mendarat di bumi. Arjuna terbangun seketika dari tapanya. la amat terkejut ketika melihat Semar dan Togog di hadapannya. Arjuna menanyakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Semar mengatakan telah memotong gunung yang dijadikan Arjuna bertapa. Lalu, Semar memberi nasihat, “Sadarlah, Raden. Raden adalah seorang satria sakti yang disegani setiap orang.

Oleh karena itu, Raden harus rendah hati dan tidak sombong. Keangkuhan Raden bisa menimbulkan malapetaka bagi diri Raden, juga bagi orang lain.” Betapa malunya Arjuna. Mendengar nasihat tersebut, Arjuna menjadi sadar dan mengakui kesalahannya. Ia juga tidak lupa berterima kasih kepada Semar dan Togog karena telah menyadarkannya.

Semar bersyukur Arjuna telah menyadari kesalahannya karena kalau tidak Sanghyang Wenang, raja segala dewa pun, tak akan memaafkan perbuatan Arjuna tadi. Ketiga orang itu pun segera meninggalkan tempat itu. Sejak itu gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Sedangkan puncak gunung yang dilemparkan oleh Semar dan Togog dinamai Gunung Wukir. Gunung Arjuna terletak di sebelah utara Kota Batu, sedangkan Gunung Wukir letaknya di sebelah tenggara Kota Batu sekarang. simak kisah Cerita Rakyat  Gunung Kelud (Lembu Sura)


diambil dari berbagai sumber

Rabu, 03 Desember 2014

Cerita Rakyat - Timun Emas Part 2


Cerita Rakyat - Cerita Rakyat Timun Emas. bicara tentang cerita rakyat memang tiada habisnya untuk dibahas, karena disetiap daerah dari kota, desa hingga dimancanegara sekalipun semua memiliki kisah cerita dan legenda masing-masing, seperti admin kali ini akan menceritakan tentang Cerita rakyat Timun Emas yang mukin sudah tak asing lagi di telinga sobat Juri Rakyat seperti apakah ceritanya? langsung saja simak Cerita Timun Emas berikut ini.

Pada suatu hari, disuatu desa hidulah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni, hampir setiap hari mbok Sarni menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak, sebenarnya ia ingin sekali mempunyai seorang anak, untuk membantunya bekerja.


Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.

Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.

Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.

Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.

Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.

Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.

Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa.

Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas. Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya.

Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar. Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam.

Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.

Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.
Berikut ini adalah vidio Cerita Rakyat Timun Emas

Kisah Keris Empu Gandring


Kisah Keris Empu Gandring yang terkubur di kawah Gunung Kelud- Gunung Kelud memiliki legenda yang panjang di negeri ini. Saat Kerajaan Majapahit berjaya, Gunung Kelud juga sempat meletus. Letusan Kelud menjadi perhatian raja terbesar Kerajaan Majapahit saat itu: Hayam Wuruk. Bahkan, konon kawah Kelud dijadikan tempat membrangus aura jahat keris Mpu Gandring oleh Raja Singosari saat itu: Wisnuwardana.

Keris Mpu Gandring sendiri terbuat dari bongkahan logam yang jatuh dari langit atau meteorit. Bongkahan logam itu diduga memiliki aura yang sangat jahat dan haus darah. Terbukti, nyawa sang empu alias yang membuat keris Mpu Gandring tewas oleh keris ini. Selain itu Mpu Gandring juga menewaskan prajurit Keboijo, Ken Arok dan Anusapati. Setelah membunuh Anusapati dengan keris Empu Gandring, Tohjaya naik tahta menjadi Raja Singosari.

Belum genap setahun menjabat sebagai Raja Singosari, Tohjaya tewas dalam sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggawuni yang merupakan anak Anusapati. Ranggawuni yang membalaskan dendam ayahnya tersebut akhirnya menjadi Raja Singosari dan bergelar Wisnuwardhana (1248-1268).

Di masa kepemimpinan Wisnuwardhana inilah perseteruan antar-keluarga dalam dinasti Rajasa berakhir. Wisnuwardhana menikah dengan putri eks kerajaan Kadiri yang tamat riwayarnya setelah dikalahkan oleh Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari.

Berabad-abad silam, Jawadwipa (Pulau Jawa) dikisahkan selalu dalam kondisi tidak stabil. Daratannya terombang-ambing, timbul tenggelam terayun oleh gelombang samudera. Kalangan dewata di kahyangan pusing tujuh keliling, hingga akhirnya muncul ide cemerlang dari Betara Guru.

"Jawadwipa, harus diberi pemberat, biar tidak terus terombang-ambing," demikian ide cemerlang Betara Guru. "Mahameru yang ada di Jambhudwipa (India), harus dipindahkan ke Jawadwipa," lanjut sang betara menjelaskan gagasannya.

Para dewata sepakat Gunung Mahameru dipindahkan ke Pulau Jawa. Namun, dalam proses pemindahannya, bagian gunung berguguran di sepanjang perjalanan, hingga menjadi gunung-gunung lain di Jawa. Satu di antara gunung-gunung itu adalah Kampud (Kelud).

Sementara yang lainnya adalah Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kawi, Arjjunai (Arjuno) dan Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring. Menyandar pada Gunung Brahma (Bromo), hingga akhirnya menjadi Gunung Sumeru (Semeru). Sedang puncak Mahameru didirikan, hingga menjadi Pawitra atau Gunung Penanggungan.

Soal keberadaan Gunung Kelud, konon, kawah gunung itu sebenarnya merupakan kuburan dari keris Mpu Gandring. Meski kebenaran atas kisah ini masih perlu pembuktian, namun banyak warga yang terlanjur mempercayainya. Tetapi sejarah mencatat, betapa haus darahnya keris ciptaan empu itu.

Selain merenggut jiwa si penciptanya, Mpu Gandring sendiri, juga merenggut jiwa si pemesan, Ken Arok dan beberapa Raja Singosari lainnya. (Dari berbagai sumber)

Sabtu, 29 November 2014

Cerita Rakyat Jawa Timur - legenda Gunung Kelud


Cerita Rakyat Jawa Timur Legenda Gunung Kelud - Halo Sobat Juri apa kabar ne? lama gak posting tentang Cerita Rakyat Indonesia, terasa kangen deh. hehehe.. kali ini admin mau berbagi Legenda Gunung Kelud, mukin sudah tak asing lagi di telinga sobat juri rakyat kan, berikut kisah legendanya.

Alkisah - di jawa Timur ada raja yang bernama Raja Brawijaya, yang bertahta dikerajaan maja pahit. ia memiliki putri yang sangat cantik jelita bernama Ayu Pusparani, sang putri memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra dan wajahnya cantik berseri bak bulan purnama, sudah banyak pangeran melamarnya namun Prabu Brawijaya belum bisa menerima satu pun lamaran. Agar tidak terjadi kecemburuan kepada pelamar yang lain, disisilain sang prabu juga tidak ingin menolak secara langsung karena takut mereka akan menyerang kerajaannya.

Seteelah berfikir keras, ahirnya Prabu Brawijaya menemukan sebuah cara. yaitu ia akan mengadakan sebuah sayembara, bahwa barang siapa yang sangup merentang busur sakti Kyai Garudayeksa dan mengangkat Gong Kyai Sekardelima maka dialah yang berhak mempersunting putrinya. ia memerintahkan pengawalnya untuk menyampaikan pengumuman tersebut kepada seluruh rakyatnya dan para raja termasuk para pangeran-pangeran di sekitar wilayahnya.

Pada saat yang ditentukan, para peserta dari berbagai negeri telah berkumpul di alun-alun (lapangan halaman istana kerajaan). Prabu Brawijaya pun tampak duduk diatas singgasananya dan di dampingi oleh permaisuri dan putrinya. setelah busur panah Kyai Garudayeksa dan Gong Kyai Sekadelima di siapkan, Prabu Brawijaya pun mulai memukul gong tanda acara akan segera di mulai.

Satu persatu peserta sayembara mulai mengeluarkan segala kesaktiannya, untuk merentangkan busur dan mengangkat gong. namun tidak satupun yang berhasil. bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mendapat musibah, ada yang patah tangannya karena memaksakan diri merentangkan busur panah ada pula yang patah pinggulnya karena tidak kuat mengangkat gong besar dan berat itu.

Ketika Prabu Brawijaya akan mumukul gong tanda sayembara akan segera di tutup.Tiba-tiba datanglahseorang pemuda berkepala lembu hendak mengadu keberuntungan.
'' ampun gusti prabu, apak hamba diperkenankan untuk mengikuti sayembara ini? pinta pemuda itu.
''hae pemuda aneh, siapa namamu? tanya Prabu Brawijaya.
nama saya Lembu Sura jawab pemuda itu.
Prabu Brawijaya beranggap pemuda itu tidak akan mampu merentang Busur sakti dan gong besar itu.

lalu ia pun mengizinkan pemuda itu untuk mengikuti sayembara sebagai peserta terahir.

''baiklah, kamu boleh mengikuti sayembara ini. jawab Prabu Brawijaya.

Lembu Sura pun menyangupi persaratan itu. dengan kesaktiannya ia mulai merentangkan busur panah Kyai Garudayaksa dengan mudah. keberhasilan Lembu Sura itu di iringi tepuk tangan para penonton yang sangat meriah. sementara itu, Putri Dyah Pusparani mulai cemas, karena ia tidak mau bersuamikan pemuda berkepala lembu itu.

Ketika Lembu Sura mendekati Gong Sekardelima, semua yang hadir tampak tegang, terutama sang Putri, ia berharap agar pria berkepala lembu tidak bisa melewati ujian kedua itu. tanpa diduganya, pemuda berkepala lembu itu sanggup mengangka Gong Kyai Sekardelima dengan mudahnya. tepuk tangan para penonton pun mulai mengema, sedangkan Putri Dyah Ayu Purpasari hanya terdiam hatinya sangat sedih dan kecewa.

Melihat kemenangan Lembu Sura, Putri Pusparani langsung meninggalkan Sitihinggil. Ia sangat sedih karena harus menikah dengan pemuda yang bekepala lembu.
Putri itu lari kepada embannya. Dia tidak mau menikah dengan manusia berkepala binatang, betapapun saktinya. Emban yang setia itu mencari akal bagaimana agar putri itu batal menikah dengan Raden Lembu Sura. Dia akhirnya menemukan jalan keluar.

Putri Pusparani disarankan mengajukan syarat kepada Lembu Sura. Syaratnya, Raden Lembu Sura harus bisa membuat sumur di puncak gunung Kelud. Mendengar saran embannya, Dyah Pusparani sangat gembira. Dia segera menyertai ayahnya untuk menemui Lembu Sura. "Selamat Raden Wimba.

Engkau telah memenangkan sayembara dengan gemilang."
"Terima kasih putri dan kau akan menjadi istriku."
"Saya tahu itu, namun saya masih mengajukan syarat lagi."
"Katakanlah Putri, apa syaratmu itu?"
"Buatkan aku sumur di puncak gunung Kelud. Air sumur itu akan kita pakai mandi berdua setelah selesai upacara perkawinan."

"Baiklah Putri. Demi cintaku padamu, akan kupenuhi permintaanmu itu."
Raden Wimba putra adipati Blambangan itu segera meninggalkan keraton Majapahit menuju puncak Gunung Kelud. Dengan kesaktiannya, konon dia mampu mengerahkan makhluk halus untuk membantunya menggali sumur di puncak Gunung Kelud.
Ternyata benar, tak lama kemudian Lembu Sura telah menggali cukup dalam. Melihat hal itu, Pusparani ketakutan, bagaimana pun kalau Lembu Sura berhasil menemukan air di sumur itu dia harus menjadi istri Lembu Sura.

Pabu Brawijaya juga kebingungan. Dia bisa memahami perasaan putrinya. Dewi Pusparani menangis di hadapan ayahnya. Dia memohon ayahandanya bisa menolongnya.
Akhirnya Prabu Brawijaya menemukan cara. Lembu Sura harus ditimbun hidup-hidup di dalam sumur itu. Kemudian Prabu Brawijaya menitahkan seluruh prajurit yang menyertainya untuk menimbun sumur itu dengan batu-batuan besar. Juga gundukan tanah yang ada di sekitar itu. Sebentar saja sumur tadi telah rata seperti semula. Lembu Sura tertimbun di dasarnya.

Meskipun begitu karena dia sakti, dia masih sempat mengancam kepada Prabu Brawijaya.
"Prabu Brawijaya, engkau raja yang licik, culas. Meskipun aku telah terpendam di sumur ini, aku masih bisa membalasmu. Yang terpendam ini ragaku bukan nyawaku. Ingat-ingatlah, setiap dua windu sekali aku akan merusak tanahmu dan seluruh yang hidup di kerajaanmu."

Setelah suara itu hilang. Seluruh prajurit yang melihat kejadian itu ketakutan. Begitu pula Prabu Brawijaya dan putrinya. Kemudian Prabu Brawijaya memerintahkan untuk membuat tanggul pengaman. Tanggul itu sekarang disebut Gunung Pegat.

Hingga sekarang ini jika Gunung Kelud meletus dianggap sebagai amukan Lembu Sura untuk membalas dendam atas kelicikan Prabu Brawijaya.
Cerita rakyat atau legenda ini mirip dengan legenda asal mula Reog Ponorogo. Lembu Sura yang asalnya seorang putra bangsawan itu memang seorang pemuda sakti, namun sifatnya berandalan maka ayahnya menyabda hingga ia dianggap pemuda bodoh seperti kerbau.
Demikanlah cerita rakyat ataupun legenda mengenai Gunung Kelud (Lembu Sura).

Nah demikianlah Cerita Legenda Gunung Kelud, semoga bisa menambah wawasan bagi sobat juri rakya.

Rabu, 19 November 2014

Cerita Rakyat - Puncak 29 (Songo Likur)


Juri Rakyat - Cerita Rakyat - Puncak 29 (Songo Likur) Pada postingan kali ini saya pengen mengenal kan salah satu gunung di gugusan gunung di daerah kota kudus-jawa tengah, mungkin nama gunung ini terdengar asing di telinga anda bagi yg luar jawa. Tapi di balik nama asing gunung ini tersimpan keindahan budaya tanah jawa yg teramat kental dan mistik…… gunung ini terkenal dengan sebutan Wukir Rahtawu (puncak 29 ).

Rahtawu sebenarnya adalah nama desa di lereng Gunung Muria masuk Kecamatan Gebog itu, bagi masyarakat Kudus dikenal banyak menyimpan misteri. Sekitar tiga dasa warsa yang lalu (lebih 30 tahun-Red), Rahtawu merupakan sebuah desa yang sangat terisolir. Sebab, belum ada jalan poros desa. Roda empat pun tak bisa menuju ke desa itu, termasuk angkudes. Satu-satunya jalan adalah lewat jalan setapak. Pendatang harus rela berjalan kaki sekitar lima kilometer mulai dari Desa Menawan. Berkat jasa Bupati Marwotosoeko, dengan tekad gugur gunung, jalan menuju desa tersebut sudah dilebarkan, sehingga Rahtawu menjadi seperti sekarang ini.

Meskipun lokasi tidak mudah dicapai, Rahtawu mempunyai daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka melakukan ritual ziarah. Di kawasan Rahtawu banyak menyimpan petilasan (bukan makam-Red) dengan nama-nama tokoh pewayangan leluhur Pandawa. Sebut saja petilasan Eyang Sakri, Lokajaya, Pandu, Palasara, Abiyoso. Selain itu di sana juga ada kawasan yang diberi nama Jonggring Saloka dan Puncak Songolikur.

Petilasan itu banyak menarik minat orang untuk datang berziarah. Di setiap daerah biasanya ada pantangan tertentu. Di Rahtawu juga ada pantangan, yakni warga dilarang nanggap wayang kulit. Meski di sana banyak nama petilasan bernama leluhur Pandawa. Sampai sekarang tidak ada yang berani melanggar. Bila dilanggar, konon yang bersangkutan terkena bencana. Jadi kalau ada warga punya hajat, paling nanggap tayub, karena diperbolehkan.

Kata orang desa sana nama Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (bahasa jawa) kalo indonesianya (darah yang bercecer ) Menurut mitos, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyoso yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa. Menurut cerita babad dan parwa, konon leluhur raja-raja Jawa merupakan keturunan dinasti Bharata/para shangyang.

Sebuah misteri yang membingungkan , ( aku aja bingung…..hehehehhe ) banyak sekali tokoh 2 pewayangan yang petilasan nya masih di rawat oleh penduduk sekitar sampai sekarang bahkan banyak orang – orang dari luar kudus ( jateng ) banyak yg berdatangan untuk menikmati suasan pegunungan dan mistik yg ada di gunung tersebut , menurut pengalaman saya tidak salah kalau orang -orang yang suka mistik ( terutama yang beraliran kejawen ) banyak yang berdatangan ke gunung Rahtawu karena memang dari lereng gunung sampai puncak gunung itu berjajar banyak sekali petilasan – petilasan dari para tokoh pewayangan yang di sucikan dan di sebut ” eyang ” oleh penduduk sekitar . Berikut ini adalah nama – nama petilasan para tokoh pewayangan yang ada di gunung Wukir Rahtawu : Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloko, dukuh Semliro, desa Rahtawu. Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung “Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Argo”.

Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung “Songolikur”, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya. Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah timur. Eyang Lokajaya (Guru Spiritual Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga (sebelum bertaubat), di Rahtawu. Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro. Memang didaerah rahtawu peradaban Hindu, budha tidak tampak jelas karena tidak di temukan candi / arca yang sebagai mana di temukan di daerah lain yang mempunyai peradaban hindu / budha , yang ada hanyalah petilasan 2 batu datar yang menurut penduduk sekitar merupakan bekas tempat bersemedinya para ” suci “.

Ada satu lagi yang aneh dari kebudayaan warga sekitar, meskipun semua petilasan yang ada di Wukir Rahtawu identik dengan para tokoh Pewayangan ( Mahabarata – Hindu ) tapi di sana sangat di tabukan untuk mengadakan pagelaran wayang. Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut. Menurut saya pribadi sesungguhnya gunung rahtawu dlm kajian mistik adalah netral dalam artian ,Hitam dan Putih tergantung manusianya. Kalau mau wisata mistik ke rahtawu pasti ketemu macam2 dukun/orang pintar dr mana saja datang saja dan nginap dr yg saya tahu dukun2 yg kejawen di daerahku gak lepas dr rahtawu. Saya yakin ada para bolowongalus yg sudah pernah ke rahtawu.


sumber: Kampus Wong Alus

Cerita Rakyat Jawa Barat - Dewi Sri (Dewi Padi)

 
Juri Rakyat - Cerita Rakyat Legenda Dewi Sri (Dewi Padi) Di tengah kehidupan masyarakat Purwagaluh yang hanya menggantungkan sumber makanan dari hasil buruan, kehidupan berubah menjadi neraka ketika hutan tak lagi menyediakan binatang untuk diburu.

Tanah kering kerontang dan sungai tidak lagi menyisakan air yang memberi kehidupan pada hewan dan tumbuhan. Purwagaluh adalah satu wilayah yang tengah mengalami bencana kekeringan terparah.


Sadana, Adikara, dan Dewi Sri, tiga orang yang ditugaskan mencari jalan keluar untuk membebaskan warga dari kesulitan dan memperbaiki kehidupan Purwagaluh secara keseluruhan. Namun dalam perjalanan tugas yang pertama pun mereka sudah menemukan kesulitan yang datang dari musuh bebuyutan mereka sejak kecil.


Demi mendapatkan Adikara yang dicintainya sejak kecil, Nuridami tak pernah berhenti mengejar dan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan kesaktian sang nenek, Nyi Ulo juga kakaknya Sapigumarang dan Singasatru.

Dalam satu pertarungan, Dewi Sri yang menyamar menjadi Camar Seta berhasil membunuh Singasatru yang saat itu memimpin kelompok Bajak Lautnya menyerang Pelabuhan Atasangin, pulau yang paling maju dan makmur kala itu dan menjadi tempat Dewi Sri, Sadana dan Adikara mempelajari sebab kemajuan Atasangin untuk diterapkan di Purwagaluh.


Sapigumarang sangat murka mengetahui kabar kematian adiknya, Singasatru di Atasangin oleh Camar Seta. Segera ia mendatangi Sadana untuk membalas dendam pada Camar Seta. Namun Nyi Ulo menahannya dengan alasan Singasatru yang jauh lebih saktipun berhasil dikalahkan Camar Seta.


Akhirnya Sapigumarang mau berlatih secara khusus bersama Nyi Ulo untuk menyempurnakan ilmu Lebursaketinya. Dari situlah Sapigumarang kemudian menyadari sumber kekuatannya yang besar, yaitu amarah yang bisa melipat gandakan kekuatannya hingga mampu menguasai Lebursaketi dengan sempurna.


Segera setelah itu Sapigumarang mendatangi Sadana untuk membunuh Camar Seta, Sadana beralih tidak mengenal Camar Seta. Sapigumarang tak mau percaya dan menyangka Camar Seta adalah Adikara yang memakai nama palsu.

Sadana yang berniat membantu dihajarnya hingga pingsan dan Adikara dibawa pergi setelah tidak berdaya karena Nuridami merayu Sapigumarang untuk tidak membunuhnya.


Dewi Sri sangat sedih mengetahui kekasihnya, Adikara ditawan oleh Sapigumarang. Namun berkat kesaktian Malihwarni yang diajarkan oleh kakeknya, Aki Tirem, Dewi Sri bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi sangat frustasi dan akhirnya bunuh diri.


Sapigumarang jadi murka dan gelap mata setelah Budugbasu dan Kalabuat menghasutnya dan menuduh Dewi Sri yang telah membunuh Nuridami karena cemburu. Sapigumarang langsung menyusun kekuatan untuk membunuh Dewi Sri sekaligus menguasai Purwagaluh yang saat itu sudah berubah menjadi wilayah yang sangat makmur berkat Dewi Sri, Sadana dan Adikara yang berhasil menciptakan sawah padi di sana.


Dan ketika Dewi Sri dan Adikara merayakan panen padi pertama bersama warga di Desa Cidamar, pasukan Sapigumarang yang dipimpin Budugbasu datang untuk merebut semua hasil panen dan menangkap Dewi Sri. Namun Dewi Sri yang sudah sangat sakti berhasil mengalahkan Budugbasu dan semua pasukannya.


Sapigumarang tidak menyerah, ia menunjuk Kalabuat untuk menggantikan Budugbasu dan memimpin pasukan yang lebih banyak. Kalabuat yang licik bersiasat untuk menyerang malam hari dengan kekuatan penuh. Saat itu Dewi Sri dan Adikara hanya berjaga - jaga dengan pemuda dan warga yang jumlahnya sangat sedikit karena banyak diantara warga Cidamar yang terbunuh pada peperangan melawan Budugbasu.


Kalabuat dan pasukannya yang besar datang dengan penuh percaya diri. Ketika mengepung sawah, tempat Dewi Sri memfokuskan penjagaan. Dewi Sri dan Adikara tak mau menyerah begitu saja, mereka melawan semua pasukan Kalabuat dengan sepenuh tenaga. Saat itu Budugbasu yang sangat dendam keluar dengan pasukannya karena ingin Dewi Sri dan Adikara hanya mati di tangannya.


Kalabuat sempat marah karena Bubugbasu hanya memimpin pasukan bantuan dan seharusnya belum boleh keluar. Tapi Budugbasu tak peduli dan segera menyerang Dewi Sri untuk membunuhnya.Dewi Sri dan Adikara sangat terdesak menghadapi jumlah pasukan yang semakin banyak. Saat itulah Dewi Sri mengeluarkan ajian Malihwarninya dan merubah dirinya menjadi ratusan kelelawar besar yang sangat buas.


Pasukan Kalabuat dan Budugbasu kalang kabut menghadapi serangan ratusan kelelawar, mereka semua terbunuh dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri. Sementara Kalabuat dan Budugbasu pun tak luput dari serangan kelelawar. Mereka pun kemudian melarikan diri dengan wajah dan bukan yang penuh luka gigitan.


Sapigumarang sangat murka mengetahui Kalabuat dan Budugbasu kembali kalah oleh Dewi Sri, terlebih lagi semua pasukannya yang habis terbunuh. Ia dengan murka menghajar Kalabuat dan Budugbasu. Kalabuat membela diri dan menyalahkan Budugbasu yang membawa keluar pasukan bantuannya hingga akhirnya semua pasukan habis terbunuh.


Budugbasu tak mau kalah, ia menyalahkan Kalabuat yang bersiasat menyerang malam hari hingga mereka diserang kelelawar ganas ciptaan sihir Dewi Sri.


Mengetahui Dewi Sri yang menguasai sihir Sapigumarang segera meminta bantuan Nyi Ulo untuk menghadapi Dewi Sri. Namun Dewi Sri dengan cerdik mengalahkan semua sihir dari Nyi Ulo yang menyerangnya, bahkan Nyio Ulo pun tewas oleh serangan balik dari Dewi Sri.


Sapigumarang murka dan menantang Dewi Sri untuk adu tanding dengannya. Dewi Sri melayani tantangan Sapigumarang dan bertarung dengan tangan kosong. Sapigumarang yakin mampu membunuh Dewi Sri dengan kekuatan penuh Lebursaketinya. Namun Dewi Sri yang sudah bersiap dengan ajian Sungsangbuana berhasil mengembalikan pukulan dahsyat Lebursaketi.


Sapigumarang pun tewas oleh ajian Lebursaketinya sendiri. Mengetahui kenyataan itu Kalabuat dan Budugbasu tak bisa berbuat apa-apa. Merekapun menyerah ketika pasukan Sadana tiba-tiba datang meringkusnya.


Semua warga dan pasukan bergembira menyambut kemenangan Dewi Sri. Mereka semua mengelu-elukan nama Dewi Sri dan menjulukinya sebagai Dewi Padi karena jasa terbesarnya yang telah menciptakan tanaman padi diseluruh wilayah Purwagaluh.


Dikutip dari Indosiar

Selasa, 14 Oktober 2014

Cerita Rakyat - Cerita Timun Mas Part 2

Cerita Timun Mas Part 2 - Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.

Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.

“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.

Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.

Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.

Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.

Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

Cerita Rakyat Tanah Jawa - Keong Emas

Cerita Rakyat Tanah Jawa - Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda bernama Galoran. ia termasuk orang yang disegani karna kekayaan dan pangkat orang tuanya. namun Galoran sangat pemalas dan juga boros, sehari-hari kerjaannya hanya menghambur-hamburkan harta orang tuanya, bahkan setelah orang tuanya meninggal ia masih sering ber foya-foya, ahirnya lama kelamaan habislah harta tinggalan dari orang tuanya Walaupun demikian tidak membuat Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang menawarkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melakukan pekerjaan tersebut. Namun akhirnya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini membuat Galoran sangat senang ; "Pucuk dicinta ulam pun tiba", demikian pikir Galoran.

Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean sampai dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, karena seringkali Jambean menegurnya karena selalu bermalas-malasan.
Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, sampai tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam dia berkata pada istrinya : " Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?" "Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud buruk terhadap kakak" bujuk istrinya itu. "Tahu aku mengapa ia berbuat kasar padaku, agar aku pergi meninggalkan rumah ini !" seru nya lagi sambil melototkan matanya. "Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan agar kakak mau bekerja" demikian usaha sang istri meredakan amarahnya. "Ah .. omong kosong. Pendeknya sekarang engkau harus memilih .. aku atau anakmu !" demikian Galoran mengancam.

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam karena bingung hatinya. Ratapnya : " Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak" serunya lirih. "Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku" jawab Jambean. "Nah selesai sudah" serunya lagi. Langsung Jambean mendapatkan ibunya yang tengah bersedih. "Mengapa emak bersedih saja" tanyanya dengan iba. Maka diceritakanlah rencana bapak Jambean yang merencanakan akan membunuh Jambean. Dengan sedih Jambean pun berkata : " Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah aku memenuhi keinginan bapak. Yang benar akhirnya akan bahagia mak". "Namun hanya satu pesanku mak, apabila aku sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam tapi buang saja ke bendungan" jawabnya lagi. Dengan sangat sedih sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan sesuai permintaan Jambean sang ibu membuang mayatnya di bendungan. Dengan ajaib batang tubuh dan kepala Jambean berubah menjadi udang dan siput, atau disebut juga dengan keong dalam bahasa Jawanya.

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara bernama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup dengan sangat melarat dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari kedua bersaudara tersebut pergi ke dekat bendungan untuk mencari daun talas. Sangat terpana mereka melihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. "Alangkah indahnya udang dan siput ini" seru Mbok Rondo Sambega "Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin aku bisa memeliharanya" serunya lagi. "Yah sangat indah, kita bawa saja udang dan keong ini pulang" sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di dalam tempayan tanah liat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur telah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi sangat rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil juga merasa keheranan dengan adanya hal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka berencana untuk mencari tahu siapakah gerangan yang melakukan hal tersebut.

Suatu hari mereka seperti biasanya pergi untuk mencari kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan kemudian setelah berjalan agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar suara gemerisik, kedua bersaudara itu segera mengintip dan melihat seorang gadis cantik keluar dari tempayan tanah liat yang berisi udang dan Keong Emas peliharaan mereka. "tentu dia adalah jelmaan keong dan udang emas itu" bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. "Ayo kita tangkap sebelum menjelma kembali menjadi udang dan Keong Emas" bisik Mbok Rondo Sembadil. Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, lalu ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. "Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kamu itu" desak Mbok Rondo Sambega "Bidadarikah kamu ?" sahutnya lagi. "bukan Mak, saya manusia biasa yang karena dibunuh dan dibuang oleh orang tua saya, maka saya menjelma menjadi udang dan keong" sahut Jambean lirih. "terharu mendengar cerita Jambean kedua bersaudara itu akhirnya mengambil Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu kedua bersaudara tersebut dengan menenun. Tenunannya sangat indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan kedua janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya dari hari kehari.

Sampailah tenunan tersebut di ibu kota kerajaan. Sang raja muda sangat tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja memutuskan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja perihal Keong Emas tersebut, dan sangat tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan kedua bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa senang hati kedua janda bersaudara tersebut.


sumber: lokerseni.web.id

Sabtu, 11 Oktober 2014

Cerita Rakyat - Legenda Gunung Arjuna



Legenda Gunung Arjuna - Pada suatu ketika Arjuna bertapa di puncak sebuah gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan – bulan. Karena ketekunannya hingga tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Karena perbawanya yang hebat jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.

Begitu khusuknya Arjuna bersemedi hingga menimbulkan goro-goro di Kahyangan Suralaya, Kahyangan geger. Kawah condrodimuko mendidih menyemburkan muntahan lahar. Bumi bergoncang, Petir menggelegar di siang bolong, terjadi hujan salah musim hingga menimbulkan banjir, menyebarkan penyakit, orang yang sore sakit pagi mati, pagi sakit sore mati. Bahkan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.

Para Dewa sangat kuatir, mereka berkumpul mengadakan sidang dipimpin oleh Batara Guru. “Ada apa gerangan yang terjadi di Marcapada , kakang Narada. Hingga Kahyangan menjadi geger” sabda Batara Guru, sebagai kata pembuka meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.

Akhir dari Sidang Paripurna Para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada lah yang bakal sanggup menyelesaikan masalah. Seperti biasanya Bidadari cantikpun tak akan sanggup membangunkan tapa Arjuna. Batara Narada segera turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber goro-goro. Sesaat ia terbang, ngiter-ngiter di angkasa.

Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada “Cucuku Arjuna bangunlah dari tapamu, semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak mau menghentikan tapa mu”. Arjuna mendengar panggilan tersebut, karena keangkuhannya jangankan bangun dari tapanya, justru dia malah semakin tekun. Dia berfikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.

Betara Narada gagal membangun kan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang susulanpun segera di gelar untuk mencari cara bagaimana menggulingkan sang Arjuna dari tapanya.

Akhirnya diutuslah Batara Ismaya yang sudah menjelma menjadi Semar untuk membangunkan tapa Arjuna. Bersama dengan Togog berdua mereka segera bersemedi dimasing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawahnya dan memotongnya. Mereka melemparkan puncak gunung itu ketempat lain.

Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dan memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.

CERITA RAKYAT INDONESIA - BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Cerita Rakyat Indonesia - Pada jaman dahulu kala disebuah desa tinggalah seorang keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

Rabu, 08 Oktober 2014

5 Legenda Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu Paling Terkenal Di Dunia

Manusia Yang Dikutuk - Sebuah objek wisata yang berumur ratusan tahun biasanya tak lepas dari mitos, legenda, atau cerita rakyat yang dituturkan sebagai asal usulnya. Batu batu terkenal yang jadi ikon wisata di daerah masing masing ini juga demikian. Sejumlah legenda mengatakan kalau dulunya batu batu itu adalah manusia biasa yang lantas berubah manjadi batu karena kutukan.

Mulai dari Three Sisters di Australia hingga Batu Malin Kundang di Indonesia, berikut ini kami tampilkan batu batu yang dulunya adalah manusia dikutuk. Meskipun kisah kisahnya dibantah oleh ilmu pengetahuan, tetapi legenda batu batu ini masih tetap diceritakan secara turun temurun sebagai pembelajaran bagi manusia.

Berikut adalah 5 Legenda Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu Paling Terkenal Di Dunia :


1. Bowerman's Nose, Inggris

Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu


Menurut Wikipedia, Bowerman's Nose adalah susunan batu granit kuno yang terletak di Dartmoor, Devon, Inggris. Batu setinggi 6,6 meter ini merupakan salah satu ikon Dartmoor. Ada yang mengatakan kalau nama Bowerman berasal dari bahasa Celtic, yaitu fawr maen yang berarti batu besar. Tetapi ada pula yang berpendapat kalau batu ini dulunya adalah seorang pemburu bernama Bowerman.

Jika dilihat dari sudut tertentu tumpukan batu ini memang tampak seperti sosok manusia dengan hidung mencuat. Menurut Atlas Obscura, kisah Bowerman dimulai ketika dia mengajak sekawanan anjing miliknya untuk berburu ke dalam hutan. Tanpa diduga mereka memasuki daerah kekuasaan para penyihir yang sedang melakukan ritual. Tanpa sengaja anjing Bowerman menumpahkan kuali yang digunakan para penyihir untuk ritual.


2. Three Sisters, Australia

Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu

Three Sisters adalah tiga batu lonjong yang berjejer di Jamison Loire, Blue Mountains, New South Wales, Australia. Masing masing batu ini memiliki nama, yaitu Meehni (922 meter), Wimlah (918 meter), dan Gunnedoo (906 meter). The Three Sisters terbentuk karena pengikisan tebing.

Walaupun terbentuk dari proses erosi, tetapi warga setempat percaya legenda menyebutkan kalau Meehni, Wimlah, dan Gunnedoo adalah tiga bersaudara dari suku Katoomba yang dulunya tinggal di Jamison. Tiga saudari ini menjalin cinta dengan tiga pemuda dari suku suku Nepean yang berselisih dengan Katoomba.


3. Arca Loro Jonggrang, Sleman - Indonesia

Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu

Arca Loro Jonggrang atau Roro Jonggrang adalah sebuah patung yang berada di dalam Candi Siwa di Prambanan, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang ada di Sleman. Menurut para arkeolog seperti dikutip Wikipedia, patung batu bersosok wanita tersebut adalah arca dewi Durga Mahisashuramardini. Tetapi legenda setempat menyebutkan kalau patung tersebut merupakan perwujudan Putri Roro Jonggrang.

Menurut cerita, Roro Jonggrang yang arti namanya gadis ramping adalah seorang putri jelita anak Prabu Boko. Ia dipinang oleh Bandung Bondowoso, seorang pangeran dari Kerajaan Pengging yang berseteru dengan Kerajaan Boko. Sang putri tak rela menikahi orang yang sudah membunuh ayahnya, tetapi tak kuasa menolak karena kerajaannya sudah dikuasai. Ia pun meminta seribu candi sebagai syarat pernikahan.


4. Batu Malin Kundang, Sumatera Barat - Indonesia

Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu

Malin Kundang adalah nama sebuah batu yang berada di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. Bentuk batu ini menyerupai tubuh manusia yang sedang menelungkup seolah sedang meminta pengampunan. Konon batu ini adalah perwujudan Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Alkisah, Malin Kundang yang menjadi kaya raya setelah merantau malu mengakui ibu kandungnya yang miskin.

Karena kecewa, tak sengaja sang ibu mengutuk putranya. Mendadak badai besar datang menerjang kapal Malin Kundang dan menghancurkannya. Malin si anak durhaka pun berubah menjadi batu dalam sujud penyesalannya. Dan karang karang di sekitar pantai dipercaya merupakan sisa kapalnya yang rusak.


5. Goa Putri, Sumatera Selatan - Indonesia

Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu

Goa Putri adalah sebuah gua di Sumatera Selatan yang terkenal karena keindahan stalaktit dan stalakmit di dalamnya. Gua ini dinamakan Goa Putri karena berkaitan dengan cerita rakyat tentang Putri Balian dan Si Pahit Lidah. Konon dulunya gua tersebut adalah desa. Di sana mengalir Sungai Semuhun, ( yang sekarang mengalir di dalam gua dan bermuara di sungai Ogan ). Suatu hari Putri Balian mandi di sana. Lalu lewatlah Pangeran Serunting alias Si Pahit Lidah, pengembara sakti yang segala ucapannya berubah menjadi sabda.

Si Pahit Lidah menyapa sang putri tetapi tak dipedulikan. Tanpa sadar ia menggumam, Sombong sekali putri ini, diam saja seperti batu. Ternyata ucapan itu berubah jadi kutukan dan Putri Balian berubah menjadi batu. Si Pahit Lidah lalu meneruskan perjalanannya. Lalu ia sampai di desa tempat tinggal Putri Balian. Ia heran mendapati desa yang begitu sepi. Katanya ini desa, tapi tak ada orangnya, seperti gua batu saja, gumam Si Pahit Lidah. Lalu desa itu pun berubah jadi gua batu.

Nah, Itulah 5 Legenda Manusia Yang Dikutuk Jadi Batu Paling Terkenal Di Dunia. Adakah legenda serupa di daerah Anda?
 

Hot News Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger