Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2016

Cina Terapkan Sanksi Hukuman Penjara bagi Siswa Mencontek


POSMETRO INFO - Baru-baru ini pemerintah Cina menerapkan sanksi kurungan penjara bagi calon mahasiswa yang kedapatan berlaku curang saat mengikuti ujian.

Tak tanggung-tanggung, calon siswa curang akan terancam tujuh tahun penjara dan dilarang mengikuti ujian nasional pendidikan lain selama tiga tahun.

"Pejabat pendidikan percaya bahwa dengan memberikan hukuman keras di depan peserta ujian, itu akan menjaga kejujuran tes, yang secara luas dilihat sebagai bagian penting dari keadilan sosial," tambah tabloid populer "Global Times".

Cina memang terlihat bersungguh-sungguh mengentaskan masalah klasik di dunia pendidikan. Di Cina, aksi mencontek dan penggunaan joki ujian dinilai sudah sangat mengkhawatirkan.

Ujian universitas, yang dimulai di seluruh penjuru negara, Selasa (7/6/2016), adalah saat stres yang tinggi di Cina.

Jutaan siswa bersaing ketat untuk menembus beberaap universitas bergenggsi di negeri tirai bambu tersebut. Diperkirakan, terdapat 9 juta lebih calon mahasiswa yang ikut tes ujian masuk perguruan tinggi tahun ini. (ts)

Astaga ! Diduga Dianiaya Senior saat Pengkaderan, Mahasiswa UMI Meninggal


POSMETRO INFO - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang kritis usai mengikuti kegiatan kampus yakni Rezky Eviena Syamsul (22), meninggal dunia di ICU RS Wahiddin Sudirohusodo Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (07/06/2016).

Rezky menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU Bedah RS Wahidin sekitar pukul 06.00 Wita. Mahasiswa asal Mamuju Sulawesi Barat itu meninggal setelah dirawat dan tidak sadarkan diri selama tiga hari.

Dekan Fakuktas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI), Prof dr H Syarifuddin Wahid PhD SpPA (K) SpF di Makassar, menyampaikan rasa duka mendalam atas meninggalnya almarhum.

"Saya juga hari ini akan turut mengantar jenazah, Resky Eviena Syamsul ke Mamuju. Saya minta maaf tidak bisa lama-lama karena pesawat akan berangkat dan saya akan ikut mengantar jenazah ke rumah orangtua Rezky di Mamuju," kata Prof Syarifuddin dalam jumpa pers terkait meninggalnya salah satu mahasiswanya tersebut.

Sementara terkait penyebab kematian dari salah satu mahasiswanya itu, pihaknya mengaku masih akan melihat hasil identifikasi.

Rezky sebelumnya mengalami kritis usai mengikuti pengkaderan study club (SC) Fakultas Kedokteran UMI, di Pegunungan Tombolo, Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa, Jumat (3/6/2016) malam. Bahkan muncul dugaan jika almarhum mengalami penganiayaan oleh seniornya saat kegiatan tersebut.

Namun demikian, pihak kampus mengaku belum bisa memastikan penyebab kematian dan masih akan melihat perkembangan dalam satu dua hari kedepan.

Terkait adanya pihak keluarga almarhum yang akhirnya melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib, dirinya juga mengaku menghargai dan pihaknya juga siap mengikuti proses hukum yang berlaku.

Wakil Dekan I FK UMI, Dr dr Nasrudin A M SpOG, mengatakan pihak kampus juga menyakini jika pengkaderan yang dilakukan sudah sesuai prosedur atau sama halnya dengan pelaksanaan sebelumnya.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kata dia, pihaknya telah melakukan pengetataan khususnya kegiatan yang dilakukan di luar kota. Pihaknya juga lebih selektif memperhatikan kegiatan apa dan siapa yang akan bertanggung jawab dalam kegiatan tersebut.

"Kami telah melakukan berbagai langkah-langkah sesuai prosedur. Kita juga sudah melakukan persiapan di dalam kampus, semuanya sudah dijadwalkan pihak panitia. Ini tentu menjadi pelajaran berharga dan mudah-mudahan bisa menjadi pengalaman terakhir,"ujarnya. (rn)

Senin, 06 Juni 2016

Memalukan Dan Kurang Ajar ! Beginikah Potret Pendidikan Saat Ini, Ketika Murid Tak Lagi Hormati Guru


POSMETRO INFO - Pendidikan bertujuan memanusiakan manusia. Pendidikan lazimnya memberikan implikasi terhadap karakter siswa menjadi lebih baik, santun dan terdidik. Namun berbeda dengan sikap siswi dalam gambar yang beredar di Facebook.

Guru yang bertugas mendidik, mengajar dan mengayomi nampak tak diseganinya. Dengan seragam baju putih dipadu rok biru sependek lutut siswa itu menembakkan dasi kepada gurunya. Dia juga nampak mengancam gurunya dengan tangan terkepal.

Tidak hanya itu, siswi berseragam SMP ini juga memunggungi gurunya seraya memberikan bokong.


Salah satu akun facebook Felicia Sihotang menulis di dindingnya. Felicia mengecam perbuatan siswi yang tidak santun pada gurunya.

"Kalau dulu jaman saya sekolah paling takut sama guru lho, setiap ketemu slalu segan menyapa siang pak, pagi bu. Aduuhhh kalau zaman sekarang yang serba gadget, kalau ada murid yang seperti ini, speechless and no comment deh. Sebagai guru sudah mengajar, mendidik, tapi dilecehkan murid seperti gambar ini, ampun deh dunia pendidikan kita."

Sementara akun Forum Merah Putih menilai sikap siswi itu sangat tidak bermoral.

"Murid tidak bermoral, inilah efek kalau pelajaran pendidikan moral di sekolah dihilangkan. Yang merasakan efeknya adalah guru yang mengajar murid-murid seperti ini bukan pemerintah atau Kementerian Pendidikan. Kira-kira hukuman apa yang wajar diberikan untuk murid spt ini? Adakah yang teriak HAM membela sang guru yang dilecehkan muridnya ini?."

"Contoh seorang murid enggak bagus banget enggak punya sopan santun," tulis akun Aling Rita.

Beda Dengan Ahok Waktu di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi, Kemendikbud: Jilbab itu Pembiasaan, Malah Baik


POSMETRO INFO - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan tidak mempermasalahkan jika terdapat sekolah yang mewajibkan siswinya berjilbab.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad menilai, ini merupakan salah satu cara untuk membiasakan hal yang baik.

"Itu bukan pemaksaan, tapi pembiasaan. Nah, kalau ada sekolah yang mewajibkan memakai jilbab bagi siswi muslim selama Ramadhan sebagai bagian pembinaan pendidikan agama Islam, itu tidak apa-apa, malah baik," kata Hamid melalui pesan singkatnya TeropongSenayan, Jakarta, Senin (6/6/2016).

Hamid menerangkan, pada dasarnya setiap sekolah memang harus membuat tata tertib masing-masing. Hal itu bisa dilakukan dengan syarat melibatkan orang tua dan juga komite sekolah.

Namun, kata dia, yang terpenting, tata tertib (tatib) sekolah tidak boleh bertentangan dengan peraturan di atasnya, seperti peraturan Bupati, Wali Kota, Gubernur, Perda, dan Permendikbud.

Sebelumnya, Ahok melarang sekolah-sekolah negeri memaksa siswinya mengenakan jilbab.

Larangan itu disampaikannya saat memberi pengarahan kepada 1.700 kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan pejabat struktural eselon III serta IV di lingkungan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi, Sabtu (4/6).

Larangan seperti ini sudah pernah ia terapkan saat menjadi bupati Belitung Timur pada 2006. Ahok meminta larangan ini tidak dikait-kaitkan dengan anggapan bahwa ia anti terhadap agama Islam.

Ia tidak ingin sekolah mewajibkan siswinya menggunakan jilbab karena, menurut Ahok, jilbab adalah panggilan iman. Jika dipaksakan, ia khawatir ada siswi yang tidak menggunakannya secara serius.‎ (ts)

Ingin Orang Asing Jadi Rektor PTN? Komisi X: Pemerintah Suka Aneh-Aneh Saja, Sikap Inlander


POSMETRO INFO - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) diminta tidak mengeluarkan kebijakan yang serampangan. Pasalnya, ada keinginan Kemenristekdikti untuk menjadikan orang asing sebagai rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia

"Harus ditelusuri dulu dasarnya apa merekrut rektor PTN warga negara asing. Suka aneh-aneh saja, ini menunjukan bahwa kita seringkali masih menunjukan sikap inlander, rendah diri dan selalu menganggap yang berbau asing itu baik," ujar Anggota Komisi X DPR Dadang Rusdiana di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (6/6/2016).

Dadang mengatakan, ketimbang merekrut orang asing lebih baik mendorong tenaga kerja pendidikan atau dosen untuk dintingkatkan kinerjanya. Selain itu, juga harus didorong permasalahan kesejahteraan agar para tenaga didik meningkat kualitasnya.

"Faktor penting lainnya adalah sarana dan prasarana kampus, serta pembenahan sistem seleksi masuk perguruan tinggi dan kemampuan manajerial rektor serta pengendalian yg dilakukan oleh kemenristekdikti harus intensif dan sungguh-sungguh," ungkapnya.

"Jadi lakukan optimalisasi SDM yang ada, tidak usah berfikir aneh-aneh, yang jelas menteri dan para dirjen harus bekerja lebih cerdas. Lihat bagaimana perguruan tinggi terkemuka di dunia mampu menjaga kualitasnya. Pelajari dan praktekan. SDM kita mampu, tunjukan nasionalisme," tegas Sekretaris Fraksi Partai Hanura itu. (ts)

Sabtu, 04 Juni 2016

Ahok Bilang Tak Ada Lagi Guru yang Hukum Siswinya karena Tak Berjibab, Guru Munafik Membebankan Anak Katanya


POSMETRO INFO - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meminta guru-guru untuk tidak lagi menghukum siswinya hanya karena tidak menggunakan jilbab di sekolah.

Ahok menyampaikan permintaan itu saat memberi pengarahan kepada 1.700 kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA, dan SMK dan pejabat struktural eselon III dan IV di lingkungan Dinas Pendidikan DKI Jakarta di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi, Sabtu (4/6/2016).

"Anda pengen semua anak putri pakai kerudung. Tapi bukan memaksa, kalau tidak pakai dihukum nilainya jadi kurang baik," kata Ahok.

Ahok melarang sekolah-sekolah negeri memaksa siswinya menggunakan jilbab. Ia menilai penggunaan jilbab harus berdasarkan panggilan hati.


Menurut Ahok, alasannya melarang sekolah mewajibkan siswinya berjilbab karena seringkali siswi yang bersangkutan tidak menggunakannya secara serius.

"Seorang guru jangan menjadi munafik, membebankan anak-anak yang belum mengerti dengan sesuatu yang dalam nurani Anda, Anda tidak bisa lakukan (itu)," kata Ahok. (ks)

Ribuan Guru Honorer Kembali Ancam Akan Demo Kemendikbud Jakarta, Ada Apa Ya ?


POSMETRO INFO - Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) segera mencairkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk guru honorer. Jika tidak, FKGH dan ribuan guru honorer se-Jawa Barat akan berdemonstrasi ke Kantor Kemendikbud, Jakarta.

Ketua FKGH Yanyan Herdiyan mengatakan jumlah guru honorer se-Jawa Barat yang belum menerima TPG ada ribuan. Mereka sudah siap berunjuk rasa ke Jakarta.

“Saat ini kami menunggu reaksi dari pusat. Jika tidak memberi kepastian kami akan aksi dengan jumlah guru honorer lebih besar lagi ke Jakarta, ke Kantor Kemendikbud,” kata Yanyan, kepada Merdeka Bandung, Jumat (3/6).  

Ia merinci, jumlah guru honorer yang belum mendapat TPG di masing-masing kabupaten/kota di Jawa Barat rata-rata 50 orang. Rata-rata TPG yang mereka terima 11 bulan, yakni TPG 2015 dan 2016. Besaran TPG 1,5 juta per bulan.

Tidak ada penjelasan dari Dinas Pendidikan maupun dari Kemendikbud terkait terlambatnya pencairan TPG. Untuk menuntut kejelasan tersebut, Kamis (2/6) lalu FKGH sudah melakukan unjuk rasa di Bandung.

“Sejauh ini belum ada tanggapan,” kata Yanyan yang juga guru honorer di SDN Cijerah Kota Bandung.

Menurutnya, demonstrasi kemarin jumlahnya masih sedikit, karena hanya dilakukan guru-guru Kota Bandung. Selain itu, saat ini guru-guru honorer sedang sibuk menghadapi kenaikan kelas. “Nanti setelah beres kenaikan kelas, akan lebih banyak lagi guru honorer yang ikut,” katanya.

Ia menyebutkan, jumlah guru honorer di Bandung saja sebanyak 20 ribu. Belum lagi dengan guru honorer di Kabupaten/Kota di Jabar. Mereka akan bersolidaritas untuk aksi ke Jakarta.

“Kami juga yakin guru honorer se-Indonesia banyak yang TPG-nya tertunda. Jadi kami mengimbau kepada guru honorer se-Indonesia mari bersatu menuntut kejelasan pencairan TPG,” katanya.

Ia juga mengajak guru honorer se-Indonesia untuk mengumpulkan bukti-semua persyaratan untuk mendapatkan TPG. Persyaratan tersebut akan menjadi bukti bahwa kesalahan bukan dari pihak guru, tetapi dari pihak Kemendikbud.
“Nanti sesuai komando kita akan datangi Kemendikbud,” ujarnya. (ma)
 

Hot News Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger